Showing posts with label Hadith. Show all posts
Showing posts with label Hadith. Show all posts

Thursday, August 04, 2011

WAHAI KAUM MUSLIMIN ! DIDIKLAH ANAK KALIAN

۞ ﺒﺴﻢ ﺍﷲ ﺍﻠﺮﺤﻤٰﻦ ﺍﻠﺮﺤﯿﻢ ۞

WAHAI KAUM MUSLIMIN ! DIDIKLAH ANAK KALIAN
Jumat, 27 Mei 11

Shahabat Ibnu ‘Umar radhiyallahu 'anhuma meriwayatkan dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, bahwasanya beliau bersabda:


« ألا كلكم راع وكلكم مسئول عن رعيته ، فالأمير الذي على الناس راع وهو مسئول عن رعيته ، والرجل راع على أهل بيته وهو مسئول عنهم ، والمرأة راعية على بيت بعلها وولده وهي مسئولة عنهم ، والعبد راع على مال سيده وهو مسئول عنه ، ألا فكلكم راع وكلكم مسئول عن رعيته » . رواه مسلم

"Ketahuilah, setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang orang yang dipimpinnya. Seorang Amir (pemimpin negara) adalah pemimpin dan ia akan ditanya tentang rakyat yang dipimpinnya. Seorang lelaki/suami adalah pemimpin bagi keluarga nya dan ia akan ditanya tentang mereka. Wanita/istri adalah pemimpin terhadap rumah suaminya dan anak suaminya dan ia akan ditanya tentang mereka. Budak seseorang adalah pemimpin terhadap harta tuannya dan ia akan ditanya tentang harta tersebut. Ketahuilah setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang orang yang dipimpinnya." (HR. Al-Bukhari no. 5200, 7138 dan Muslim no. 4701 dari Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu 'anhuma)

Hadits di atas memberikan faidah kepada kita bahwa setiap orang tua (bapak dan ibu) berkewajiban untuk memelihara dan mengurus anak-anaknya. Adapun pengurusan anak meliputi pemberian sandang, papan (tempat tinggal) dan pangan (makanan). Namun yang tidak kalah penting dari ketiga hal tersebut adalah pemberian pendidikan kepada mereka. Masih banyak orang tua yang meremehkan pendidikan anak-anaknya, mereka mengira bahwa tanggung jawab mereka telah mereka tunaikan apabila mereka telah memberikan sandang, papan, pangan dan menyekolahkan mereka. Mereka lupa bahwa pendidikan agama adalah salah satu kewajiban yang harus mereka tunaikan bagi anak-anak mereka. Karena mendapatkan pendidikan agama adalah hak setiap anak.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:”Barang siapa yang meremehkan pendidikan anak dengan tidak memberikan sesuatu yang bermanfaat baginya, dan membiarkannya sia-sia, maka dia telah berbuat keburukan yang sangat buruk kepada anaknya. Dan kebanyakan rusaknya anak datang dari sisi bapaknya, karena mereka melalaikan anak-anaknya, tidak mengajari mereka kewajiban-kewajiban dan sunah-sunah agama. Lalu mereka pun menyia-nyiakan anak-anak mereka di waktu kecil, sehingga mereka tidak bisa bermanfaat untuk diri sendiri dan tidak bisa pula memberi manfaat terhadap orang tuanya di masa tua.” (Tuhfatul Maudud bi Ahkaamil Maulud)

Di antara faktor yang menjadi penyebab mereka meremehkan pendidikan agama bagi anak-anak adalah ketidaktahuan mereka tentang karakterisik pedidikan bagi anak. Oleh sebab itu wajib bagi kita mengetahui karakterisik pendidikan agama bagi anak. Di antara karakterisik tersebut adalah sebagai berikut:

Pertama: Pendidikan adalah ibadah

Sesungguhnya mendidik anak adalah suatu ibadah yang seorang muslim akan diberi pahala atas apa yang dia lakukan dalam mendidik anak-anaknya. Maka di dalamnya harus ada keikhlasan niat dan pemurnian niat semata-mata karena Allah. Janganlah seorang muslim capek dalam mendidik muridnya (atau anaknya) dengan niat supaya dikatakan seorang professional, atau supaya diacungi jempol, dan diakui bahwa dia telah mengerahkan usaha yang maksimal dalam mencari jalan hidayah untuk keluarganya. Atau supaya dikatakan:”Sungguh luar biasa pendidik ini! Sungguh sukses pengajar ini!” Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,


{وما أمروا إلا ليعبدوا الله مخلصين له الدين} [البينة: ه[

”Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Dari ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhuma berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:


((إنما الأعمال بالنيات((…

”Sesungguhnya suatu amalan tergantung niatnya..”(HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dan juga diharuskan meneladani dan mencontoh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam mendidik anak, karena sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk beliau, metode yang paling sempurna adalah metode beliau dan jalan yang paling terang adalah jalan beliau shallallahu 'alaihi wa sallam.

Maka meneladani Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam mendidik kelurga adalah suatu keharusan dan tidak ada pilihan lain, tidak boleh berpaling darinya, karena di dalamnya ada buah yang jelas, hasil yang bisa langsung dirasakan. Dan tidak mengapa untuk mengambil faidah dari uslub (metode) pendidikan modern yang sesuai dengan ajaran Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dan tidak menyelisihi ajaran beliau, karena ‘Aisyah radhiyallahu 'anha berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,


من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد

”Barangsiapa yang membuat perkara baru dalam urusan kami (agama Islam) ini yang bukan darinya maka dia tertolak.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dan di dalam menelaah dan mengkaji sunah-sunah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentang pendidikan beliau terhadap keluarganya sudah mencukupi kita dari mempelajari metode-metode yang lain.

Kedua: Berharaplah pahala dari Allah

Berharaplah pahala dari Allah Subhanahu wa Ta'ala dari apa yang anda usahakan dalam mendidik mereka, karena pendidikan itu berat, tidak ringan, panjang tanpa akhir, dan butuh biaya besar tidak sedikit. Dan seseorang tidak mendapatkan pahala melainkan apa yang ia harapkan. Sebaik-baik cita-cita adalah apa yang dicita-citakan untuk kebaikan keluarga, sebaik-baik nafkah adalah apa yang dikeluarkan untuk keluarganya.

Dari Tsauban radhiyallahu 'anhu berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,


((أفضل دينار ينفقه الرجل دينار على عياله((

”Dinar yang paling utama yang dibelanjakan seseorang adalah dinar yang ia belanjakan untuk keluarganya,…” (HR. Imam Muslim)

Dan dari Abi Mas’ud al-Badri radhiyallahu 'anhu, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,


إن المسلم إذا أنفق على أهله نفقة؛ وهو يحتسبها، كانت له صدقة

”Apabila seorang muslim memberi nafkah kepada keluarganya dan dia mengharapkan pahala dengannya maka nafkah tadi teranggap sebagai sedekahnya. (HR Bukhari dan Muslim. Adapun lafazh hadits menurut riwayat Imam Bukhari)

Maka setiap orang melakukan pendidikan, minimal mendidik anak-anaknya sendiri, namun tidak semuanya mendapatkan pahala. Maka perhatikanlah hal ini….

Ketiga: Hidayah bukan di tanganmu

Sesungguhnya hidayah –dalam artian masuknya iman, taufiq dan keteguhan di atasnya- bukan di tanganmu. Akan tetapi ia ada di tangan Dzat yang memberi hidayah kepada siapa yang dikehendaki dengan karunia dan rahmat-Nya, dan yang menyesatkan siapa yang dikehendaki dengan keadilan dan hikmah-Nya. Namun yang wajib bagi anda hanyalah memberikan bimbingan, nasehat dan arahan. Maka janganlah anda melalaikan dan meremehkannya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,


{إنك لا تهدي من أحببت ولكن الله يهدي من يشاء} [القصص: 56[

”Sesungguhnya kamu (hai Muhammad) tidak akan dapat memberi hidayah (petunjuk) kepada orang yang kamu cintai, tetapi Allah lah yang memberi petunjuk kepada siapa saja yang dikehendakiNya, ...” (QS. Al-Qashash: 56)

Allah Subhanahu wa Ta'ala juga berfirman,


ليس عليك هداهم ولكن الله يهدي من يشاء} [البقرة: 272[

”Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufik) siapa yang dikehendaki-Nya....” (QS. Al-Baqarah: 272)

Dari Abu Dzar radhiyallahu 'anhu berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,


(قال الله عز وجل:... يا عبادي كلكم ضال إلا من هديته فاستهدوني أهدكم(

”Allah Azza Wajalla berfirman:’…Wahai hambaku, kalian semua adalah sesat kecuali siapa yang Aku beri hidayah, maka mintalah hidayah kepada-Ku.”

Engkau tidak memiliki daya dan kekuatan untuk memberi manfaat bagi dirimu sendiri, maka untuk memberikannya kepada orang lain lebih tidak mampu lagi. Maka janganlah bersandar kepada dirimu, jangan mengandalkan kemampuanmu, dan janganlah yakin kepada selain Rabbmu (Allah), serahkan urusanmu kepada kepada-Nya, bertawakallah kepada-Nya dan mintalah pertolongan dari-Nya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,


{وعلى الله فتوكلوا إن كنتم مؤمنين} [المائدة: 23[

”Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. Al-Maa’idah: 23)

Dia juga berfirman,


وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ (88)

”Dan tidak {ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali....” (QS. Huud: 88)

Dan perbanyaklah berdo’a kepada-Nya, berharap kepada-Nya, bersandar dan merendah di hadapan-Nya. Jangan pernah sekali-kali mengatakan:”Semua ini berkat kecerdasanku, berkat pengetahuanku, berkat kerja kerasku dan lain-lain, namun engaku –di setiap kondisimu- selalu butuh kepada Allah, tidak bisa lepas dari-Nya dan tidak ada tempat untuk lari dari-Nya.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berdo’a,


(يا حي يا قيوم برحمتك أستغيث أصلح لي شأني كله ولا تكلني إلى نفسي طرفة عين((

”Wahai (Allah) Yang Mahahidup, wahai Yang Mahaberdiri sendiri dengan rahmat-Mu aku meminta pertolongan, perbaikilah untukku seluruh urusanku dan janganlah Engkau menyerahkannya kepadaku walau sekejap mata.”

Keempat: Keteladan dalam segala hal

Tidak diragukan dan tidak perlu diperdebatkan lagi tentang pentingnya keteladanan yang baik di dalam segala bidang, maka dirimu adalah bidang yang pertama. Jika engkau mampu menjadi teladan yang baik untuk dirimu sendiri niscaya engkau akan lebih mampu menjadi teladan bagi selainmu. Maka mulailah dari dirimu sendiri, perbaikilah dirimu, niscaya Allah akan memperbaiki orang-orang yang ada di bawahmu (orang yang engkau pimpin) dan orang-orang yang mengikutimu. Karena mereka, kapan mendengar sesuatu yang bertentangan dengan apa yang engkau perbuat, niscaya akan terjadi ketimpangan dan jadilah perkataanmu tidak memiliki dampak pada mereka. Sebagaimana perkataan penyair:


لا تنه عن خلق وتأتي مثله عار عليك إذا فعلت عظيم
Janganlah kalian melarang sesuatu namun engkau melakukannya, sungguh besar aib atasmu apabila engkau melakukannya

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,


{وما أريد أن أخالفكم إلى ما أنهاكم عنه إن أريد إلا الإصلاح ما استطعت وما توفيقي إلا بالله عليه توكلت وإليه أنيب} [هود: 88[

”Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang. Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” (QS. Huud: 88)

Kelima: Lenturlah seperti pisau

Lenturlah dan lembutlah seperti pisau yang memotong tanpa menyakitkan. Kelembutan adalah nikmat yang besar yang berpengaruh pada jiwa yang mulia dan tidak bisa dipengaruhi oleh sikap kasar dan kekerasan. Dari ‘Ubaidaillah bin Ma’mar radhiyallahu 'anhu berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,


- ما أعطي أهل بيت الرفق إلا نفعهم، ولا منعوه إلا ضرهم

”Tidaklah sebuah penghuni rumah dikaruniai kelembutan kecuali ia akan memberi manfaat kepada mereka, dan tidaklah mereka dihalangi darinya melainkan ia akan membahayakannya.”

Dari ‘Aisyah radhiyallahu 'anhuma:


(ما يكون الرفق في شيء إلا زانه ولا ينزع من شيء إلا شانه(

”Tidaklah kelemah lembutan ada pada sesuatu melainkan ia akan memperindahnya dan tidaklah ia diangkat dari seuatu melainkan akan memperburuknya.”

Keeenam: Lapang dada, dan tidak tergesa-gesa

Diharuskan tahapan dalam merubah sesuatu. Dahulukan yang paling penting kemudian yang penting dan seterusnya, dan tidak tergesa-gesa untuk medapatkan hasil yang diinginkan.

(Sumber:Diterjemahkan dengan ringkasan dari artkel di http://www.freemoslem.com/showthread.php?t=1404, oleh Abu Yusuf Sujono)

sumber artikel: http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihathadits&id=265

Sunday, December 19, 2010

Hadis-hadis Populer yang sanadnya dha’if

۞ ﺒﺴﻢ ﺍﷲ ﺍﻠﺮﺤﻤٰﻦ ﺍﻠﺮﺤﯿﻢ ۞

credit to: http://abuafif.wordpress.com


أحاديث مشهورة ضعيفة السند
Hadis-hadis Populer yang sanadnya dha’if
Oleh: Ihsan al-‘Utaibi


اْلأَذَانُ وَاْلإِقَامَةُ فِي أُذُنِ الْمَوْلُوْدِ
“Adzan dan iqamah di telinga anak yang baru lahir”.
Hadis ini dla’if sekali. Bayan al-Wahm, Ibnu al-Qaththan, 4:594; al-Majruhin, Ibnu Hibban, 2:128; adl-Dla’ifah, 1:494

اطْلُبُوا الْعِلْمَ وَلَوْ بِالصِّيْنِ فَاِنَّ طَلَبَ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
“Carilah ilmu meskipun sampai di negeri Cina, karena sesungguhnya mencari ilmu adalah kewajiban atas setiap orang muslim”.
Hadis ini palsu. Al-Maudlu’at, Ibnu al-Jauzi, 1:215; Tartib al-Maudlu’at, adz-Dzahabi, 111; al-Fawaid al-Majmu’ah, 852; Kasyful Khafa’, al-Ajluni, 1:139.

اعْمَلْ لِدُنْيَاكَ كَأَنَّكَ تَعِيْشُ أَبَداً، وَاعْمَلْ لآخِرَتِكَ كَأَنَّكَ تَمُوْتُ غَداً
“Beramallah untuk duniamu seolah-olah kau akan hidup selamanya, dan berbuatlah untuk akhiratmu seolah-olah kau akan mati besok”.
al-Albani mengatakan; Tidak benar kalau hadis ini marfu’, maksudnya tidak benar kalau hadis ini berasa dari Nabi saw. adl-Dla’ifah:8

إِنَّ لِكُلِّ شَيْءٍ قَلْباً، وَإِنَّ قَلْبَ الْقُرْآنِ يس مَنْ قَرَأَهَا فَكَأَنَّمَا قَرَأ الْقُرْآنِ عَشْرَ مَرَّاتٍ
“Sesungguhnya segala sesuatu memiliki hati, dan sesung-guhnya hatinya Al-Qur’an adalah surat Yasin, barang siapa membaca surat Yasin, maka seolah-olah ia telah membaca Alqur’an 10 kali”.
Hadis ini maudlu’. Al-Ilal Ibnu Abi Hatim, 2:55; adl-Dla’ifah, 169.

أَحِبُّوْا الْعَرَبَ لِثَلاَثٍ لأَنِّيْ عَرَبِيٌّ وَالْقُرْآنُ عَرَبِيٌّ وَكَلاَمُ أَهْلِ الْجَنَّةِ عَرَبِيٌّ
“Cintailah Arab karena tiga hal, karena saya orang Arab, al-Qur’an berbahasa Arab, dan bahasa penduduk sorga (di sorga) adalah bahasa Arab”.
Hadis ini Maudlu’ (palsu). Tadzkiratu al-Maudlu’at, 112; al-Maqashid al-Hasanah, 31; Tanzih asy-Syari’ah, 2:30; Kasyf al-Khafa’, 1:54

أَوْصَانِي جِبْرَائِيْلُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ بِالْجَارِ إِلَى أَرْبَعِيْنَ دَارًا عَشْرَةٌ مِنْ هَا هُنَا، وَعَشْرَةٌ مِنْ هَا هُنَا ، وَعَشْرَةٌ مِنْ هَا هُنَا ، وَعَشْرَةٌ مِنْ هَا هُنَا
“Jibril mewasiatkan kepadaku bahwa tetangga itu sampai 40 rumah, 10 dari arah sana, 10 dari arah sana, 10 dari arah sana, dan 10 dari arah sana”.
Hadis ini dla’if. Kasyful Khafa’, 1:1054; Takhrij al-Ihya’, 2:232; al-Maqashid al-Hasanah, as-Sakhawi, 170.

إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدِ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ
“Hati-hatilah kalian terhadap iri (hasad), karena iri itu akan dapat memakan kebaikan seperti api memakan (membakar) kayu”.
Hadis dla’if. At-Tarikh al-Kabir, 1:272; Mukhtashar Sunan Abi Dawud, al-Mundziri,7:226

اْلاِيْمَانُ عُرْيَانٌ فَلِبَاسُهُ التَقْوَى وَزِيْنَتُهُ الْحَيَاءُ وَثَمْرَتُهُ الْعِلْمُ
“Iman itu telanjang, pakaiannya adalah taqwa, perhiasan-nya adalah malu dan buahnya adalah ilmu.”
Hadis ini palsu, Kasyf al-Khafa’, 27.

اْلإِيْمَانُ يَزِيْدُ وَيَنْقُصُ
“Iman itu bisa bertambah dan berkurang”.
Bukan hadis Rasululah, tetapi kata-kata yang disepakati (ijma’) oleh ulama’ salaf. al-Manar al-Munif, 119; Kasyf al-Khafa’, 25; Mizan al-I’tidal, 6:304.

حُبُّ الْوَطَنِ مِنَ اْلإِيْمَانِ
“Cinta tanah air sebagian dari iman”
Hadis ini tidak ada asalnya, adl-Dla’ifah, 36; Kasyf al-Khafa’, 1102; al-Mashnu’, Ali al-Qari, 1:91.

رَجَعْناَ مِنَ الْجِهَادِ اْلأَصْغَرِ إِلَى الْجِهَادِ اْلأَكْبَرِ قَالُوْا وَمَا الْجِهَادُ اْلأَكْبَرُ قَالَ جِهَادُ الْقَلْبِ
“Kami pulang dari jihad ashghar (jihad kecil) menuju jihad akbar (jihad besar). Para sahabat bertanya, apakah jihad akbar itu. Rasul saw bersabda; Jihad hati”.
Hadis ini tidak ada asalnya, al-Asrar al-Marfu’ah, 211; Tadzkiratu al-Maudlu’at, al-Futni, 191, Kasyf al-Khafa’, 1:511.

السُّلْطَانُ ظِلُّ اللهِ فِي أَرْضِهِ ، مَنْ نَصَحَهُ هُدِيَ ، وَمَنْ غَشَّهُ ضَلَّ
“Penguasa adalah bayang-bayang Allah di bumi-Nya, barangsiapa yang setia kepada penguasa maka ia telah mendapatkan petunjuk dan barangsiapa mengkhianati-nya maka ia telah sesat”.
Maudlu’ (palsu). Tadzkiratu al-Maudlu’at, al-Futni, 182; al-Fawaid al-Majmu’ah, asy-Syaukani, 623; adl-Dla’ifah, 475.

سَيِّدُ الْقَوْمِ خَادِمُهُمْ
“Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka”.
Hadis ini dla’if. Al-Maqashid al-Hasanah, as-Sakhawi, 579; adl-Dla’ifah,1502.

لَوْلاَكَ مَا خَلَقْتُ الدُّنْيَا
“Kalau bukan karena kamu (Nabi Muhammad saw) niscaya idak aku ciptakan dunia”.
Hadis maudlu’. Al-Lu’lu’ al-Marshu’, al-Musyaisyi, 454; Tartib al-Maudlu’at, 196; adl-Dla’ifah, 282.

مَا خَابَ مَنِ اسْتَخَارَ ، وَلاَ نَدِمَ مَنِ اسْتَشَارَ وَلاَ عَالَ مَنِ اقْتَصَدَ
“Tidak akan sia-sia orang yang beristikharah, tidak akan kecewa orang yang bermusyawarah, dan tidak akan sengsara orang yang berhemat”.
Hadis ini maudlu’ (palsu). Al-Kasyf al-Ilahi, 1:775; adl-Dla’ifah, 611.

مَنْ حَجَّ الْبَيْتَ وَلَمْ يَزُرْنِي فَقَدْ جَفَانِي
“Barangsiapa berhaji di Baitullah ttapi tidak menziarahi makamku maka ia telah menjauh dariku”.
Hadis ini Maudlu’ sebagaimana disebutkan oleh adz-Dzahabi di dalam kitab Tartib al-Maudlu’at, 600; ash-Shaghani menyebutkan di dalam al-Maudlu’at, 52; asy-Syaukani menyebutkan di dalam al-Fawa’id al-Majmu’ah, 326.

مَنْ حَجَّ، فَزَارَ قَبْرِيْ بَعْدَ مَوْتِي، كَانَ كَمَنْ زَارَنِي فِي حَيَاتِي
“Barangsiapa yang berhaji lalu menziarahi kuburku setelah kematianku maka ia seperti orang yang mengunjungiku di masa hidupku”.
Ibnu Taimiyah mengatakan, hadis ini dla’if, Qa’idah Jalilah, 57; Al-Albani menyatakan Maudlu’, adl-Dla’ifah, 47. Lihat pula Dzakhirat al-Huffadz, Ibnu Al-Qaisrani, 4:5250.

مَنْ صَلَّى فِي مَسْجِدِيْ أَرْبَعِيْنَ صَلاَةً لاَ يَفُوْتُهُ صَلاَةٌ كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ وَنَجَاةٌ مِنَ الْعَذَابِ، وَبَرِئٌ مِنَ النِّفَاقِ
“Barangsiapa shalat di masjidku empat puluh waktu shalat tanpa ketinggalan satu waktu shalat pun maka ditetapkan baginya terbebas dari neraka dan selamat dari adzab, dan trlepas dari kemunafikan”.
Hadis dla’if, adl-Da’ifah, 364.

مَنْ وَلَدَ لَهُ مَوْلُوْدٌ فَأَذِنَ فِي أُذُنِهِ الْيُمْنَى وَأَقَامَ فِي أُذُنِهِ الْيُسْرَى لَمْ تَضُرُّهُ أُمُّ الصِّبْيَانِ
“Barangsiapa yang mendapatkan seorang anak, kemudian ia adzankan di telinga kanan dan iqamah di telinga kiri, maka kelak anak itu tidak akan diganggu oleh jin”.
Hadis Maudlu’. Al-Mizan, adz-Dzahabi, 4:397; Majma’ az-Zawa’id, al-Haitsami. Takhrij al-Ihya’, 2:61.

النَّاسُ كُلُّهُمْ مَوْتَى إِلاَّ الْعَالِمُوْنَ، وَالْعَالِمُوْنَ كُلُّهُمْ هَلَكَى إِلاَّ الْعَامِلُوْنَ، وَالْعَامِلُوْنَ كُلُّهُمْ غَرَقَى إِلاَّ الْمُخْلِصُوْنَ، وَالْمُخْلِصُوْنَ عَلَى خَطْرٍ عَظِيْمٍ
“Manusia semuanya adalah mayat, kecuali orang yang berilmu, dan orang-orang yang berilmu semuanya binasa kecuali orang yang beramal, orang-orang yang beramal semuanya tenggelam kecuali orang yang ikhlas. Dan orang yang ikhlas berada di atas kedudukan yang agung”.
Ash-Shaghani berkata, ini adalah hadis yang diada-adakan lagi pula tidak sesuai dengan aturan kebahasaan. Yang benar secara bahasa adalah dengan menggunakan kata al-‘Alimina, al-‘Amilina dan Mukhlishin. Al-Maudlu’at, 200; Asy-Syaukani menyebutkan di dalam al-Fawa’id al-Majmu’ah, 771; al-Futni menyebutkan dalam Tadzkirat al-Maudlu’at, 200.

Sunday, January 31, 2010

Memenuhi Hajat Kaum Muslimin


۞ ﺒﺴﻢ ﺍﷲ ﺍﻠﺮﺤﻤٰﻦ ﺍﻠﺮﺤﯿﻢ ۞
Petang ini sungguh syahdu dan sayu seumpama perasaanku di kala ini...daerah Nilai kini sungguh hangat menanti hujan yang harapnya akan turun menyejukkan alam..langit kelihatan mendung seawal jam 6 petang menggelapkan suasana petang. Sambil menghirup kopi, saya turut dibuai alunan nasyid asma Allah..sayu..

Fikiran melayang ke suasana pertemuan petang semalam. Pertemuan rutin mingguan dengan sahabat tercinta dalam lingkaran cinta. Pertemuan semalam cukup singkat rasa tidak cukup untuk melepaskan rindu dan menyembang pelbagai topik. Terkadang pertemuan kami diganggu oleh tangisan dan jeritan si kembar yang sengaja ingin meraih perhatian dari ummi yang sibuk menyembang dengan amah-amah. Bila sahabat saya pulang, tangisan mereka reda serta merta. Jeles la tu..



Semalam kami membacakan sebuah hadith dari syarah riadhus shalihin dalam bab "Memenuhi hajat kaum muslimin". Hadith itu bermaksud:

""Dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma bahwa Rasulullah saw bersabda, 'Seorang muslim adalah saudara seorang muslim yang lain, maka tidak boleh menzaliminya dan tidak boleh menyerahkan pada musuh. Barang siapa memenuhi hajat saudaranya maka Allah akan memenuhi hajatnya. Barang siapa memberikan jalan keluar bagi seorang muslim dari kesulitan maka Allah akan memberikan jalan keluar dari kesulitan di hari kiamat. Barangsiapa menutupi aib seorang muslim maka Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat". (Muttafaq alaih)

Perbincangan hadith:
Hajat merupakan sesuatu keperluan yang diperlukan oleh seseorang untuk menyempurnakan urusannya. Darurat pula adalah keperluan manusia yang sangat terdesak untuk menolak bahaya. Jika hajat itu merupakan sesuatu yang darurat, maka wajib bagi seorang muslim yang lain untuk memenuhi hajat saudaranya itu. Sebagai contoh, jika ada seorang muslim terpaksa(darurat) kepada makanan atau minuman yang berada di tangan seorang muslim yang lain, sedangkan orang yang memiliki makanan/minuman itu tidak terdesak kepada makanan/minuman tersebut, dan jika dia tidak memberikan makanan/minuman itu apabila diminta oleh saudaranya yang dlm kondisi terdesak tadi sehingga saudaranya itu meninggal dunia, maka dia bertanggugjawab kerana telah memperlekehkan untuk memberi pertolongan sehingga menyebabkan kematian. Para pembaca, mungkin dalam negara kita, kita tidak melihat kondisi umat islam yang merana kelaparan dan hidup melarat, namun cuba kita lontarkan pandangan kita ke belahan bumi palestin yang kehidupan mereka selalu ditekan dan ditindas. Usahkan ingin menikmati makanan enak seperti kita, bekalan makanan pun belum tentu ada. Maka wajib bagi kita untuk menyalurkan sumbangan kepada mereka di sana mudah-mudahan sampai kepada mereka insyaAllah.



Jika seseorang muslim itu bukan dalam kondisi darurat, maka yang afdhal ialah hendaklah kita menolong menyempurnakan hajatnya seandainya hajat itu bukan menjurus kepada bahaya. Jika hajatnya itu adalah suatu yang membahayakan, maka kita tidak boleh menolongnya sebagaimana firman Allah swt

"....Dan janganlah tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran." (Al-Maidah:2)

Sebagai contoh, jika ada seorang hamba Allah yang sangat-sangat ingin merokok lalu ia meminta anda agar membayarkan harga rokok atau meminta kepada anda untuk membelikannya atau apa saja bentuk bantuan yang lain, maka tidak halal bagi anda untuk membantunya sekalipun ia sangat memerlukannya. Walaupun dia itu samada ayah, abang atau kawan2 anda, janganlah membantunya dalam hal ini sekalipun ia marah kepada anda kerana kemarahannya itu bukan pada tempatnya di mana ia harus marah. Bahkan dengan tidak membantunya membelikan rokok, anda telah berbakti kepadanya dengan tidak membahayakan kesihatannya. Perbuatan anda itu adalah ihsan.



Antara perkara yang termasuk dalam membantu seseorang dalam kesulitan ialah memberi tangguh kepadanya (jika dia seorang penghutang) hingga sampai ia mampu membayar hutangnya. Para ulama Rahimahumullah telah mengatakan, "Barangsiapa memiliki penghutang dalam kesulitan, maka haram baginya untuk meminta wang atau menagihnya atau membawa perkara tersebut kepada hakim, tetapi wajib baginya memberikan tangguh" *(1). Firman Allah dalam surah Al-Baqarah ayat 280:

"Dan jika (orang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan."

Saya teringat akan pelajar-pelajar yang berhutang dengan pemiutang-pemiutang seperti PTPTN, MARA dan sebagainya. Amatlah tidak wajar jika pihak pemberi hutang mengutip hutang sekiranya bekas-bekas pelajar masih menganggur mencari pekerjaan kerana mereka masih belum mampu untuk membayar hutang. Namun sekiranya sudah mampu, eloklah diperjelaskan hutang tersebut secara beransur-ansur mengikut kemampuan diri kerana penangguhan pembayaran hutang oleh penghutang yang telah berkemampuan adalah tindakan yang zalim.


Sebagai kesimpulan, sesungguhnya jika kita menyulitkan saudara kita yang lain maka Allah akan sempitkan baginya di dunia atau di akhirat atau kedua-duanya sekali. Tetapi barangsiapa meringankan beban saudara semuslimnya yang lain, maka Allah swt akan meringankan hidupnya dan mempermudahkan urusannya di akhirat kelak. Ramai yang mengetahui akan kepentingan ukhuwwah namun berapa ramaikah yang mengaplikasikan maksud ukhuwwah itu dalam perhubungan kita sesama saudara seislam? Ramai kononnya bersahabat ukhuwwah fillah, namun sejauh manakah kita membantu sahabat kita dalam meringankan bebannya? Rukun ukhuwwah itu ada tiga *(2) iaitu (1) ta'aruf-saling mengenal, (2) tafahum-saling memahami (3) takaful-saling menanggung beban. Janganlah kita hidup dengan mementingkan diri sendiri, bertanyalah kondisi sahabat di sekeliling kita dan peka dengan kondisi umat islam yang lain. Peringatan untuk diri sendiri dan semoga beroleh manfaat. Sekian.

*rujukan:
(1) Syarah Riadhus Shalihin oleh Syeikh Muhammad Al-Utsaimin
(2) Memperbaharui Komitmen Dakwah oleh Muhammad Abduh

Tuesday, December 15, 2009

Perumpamaan Manusia Dengan Jenis Tanah


۞ ﺒﺴﻢ ﺍﷲ ﺍﻠﺮﺤﻤٰﻦ ﺍﻠﺮﺤﯿﻢ ۞
Dari Abi Musa Radhiallahu Anhu, katanya Nabi Shalallahu Alaihi wa sallam bersabda, "Perumpamaan petunjuk dan ilmu pengetahuan, yang oleh karena itu Allah mengutus aku untuk menyampaikanya, seperti hujan lebat jatuh ke bumi;(1) bumi itu ada yang subur, menyerap air, menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rumput-rumput yang banyak. (2)Ada pula yang keras tidak menyerap air sehingga tergenang, maka Allah memberi manfaat dengan hal itu kepada manusia. Mereka dapat minum dan memberi minum (binatang ternak dan sebagainya), dan untuk bercocok tanam. (3)Ada pula hujan yang jatuh kebagian lain, yaitu di atas tanah yang tidak menggenangkan air dan tidak pula menumbuhkan rumput. Begitulah perumpamaan orang yang belajar agama, yang mau memanfaatkan sesuatu yang oleh karena itu Allah mengutus aku menyampaikannya, dipelajarinya dan diajarkannya. Begitu pula perumpamaan orang yang tidak mau memikirkan dan mengambil peduli dengan petunjuk Allah, yang aku diutus untuk menyampaikannya. (Maksud dari Hadith No. 79 - Kitab Fathul Bari)

Huraian:
Rasulullah bersabda, apa yang diturunkan dan apa yang didatangkan oleh Allah swt daripada ‘huda’ atau hidayah dan ilmu samalah seperti mana air hujan yang turun ke bumi ini. Dalam hadith ini, Rasulullah saw mengumpamakan hidayah dan ilmu dengan diri manusia laksana air hujan dengan tanah di bumi. Seperti hujan menghidupkan tanah yang mati, gersang, kering dan tandus, demikian pula ilmu agama dapat menghidupkan hati yang mati...

1) Tanah jenis pertama ialah dari jenis yang subur. Apabila hujan turun menimpanya, ia memberi “respond” yang baik lalu menumbuhkan rumput dan tanam-tanaman yang subur. Demikianlah dengan manusia. Ada di kalangan manusia yang hatinya subur. Apabila saja dia mendengar ayat-ayat al-Quran dan hadith Rasulullah saw, dia dapat menerimanya dengan baik. Kemudian, orang ini bukan saja mengamalkan ilmu yang dipelajarinya bahkan mengajarkan kepada orang lain pula. Orang ini seperti tanah subur yang menyerap air sehingga dapat memberi manfaat bagi dirinya, kemudian tanah tersebut dapat menumbuhan tumbuh-tumbuhan sehingga dapat memberi manfaat bagi yang lain.

2) Tanah jenis kedua ialah tanah yang jenis keras. Ia tidak dapat menyerap air hujan yang turun dan tidak mampu menumbuhkan pokok-pokok. Namun begitu, tanah yang keras ini dapat menakung air hujan yang turun. Oleh hal yang demikian, air tersebut dapat diguna pakai oleh orang lain untuk tumpang minum, tumpang masak, tumpang mandi dan sebagainya. Orang yang jenis kedua ini, apabila dia mendengar ilmu agama, ayat2 al-quran dan hadith dia dapat menyerap dan merekod dengan baik dalam otaknya, namun ia tidak bermanfaat kepada dirinya (tidak mengamalkan ilmu yang dipelajarinya). Kita boleh melihat dari segi akhlaknya yang buruk tidak selari dengan banyaknya ilmu yang dia. Namun begitu, dia masih dapat mengajarkan ilmu kepada orang lain dengan baik yang mana orang lain bisa mengambil manfaat darinya.

3) Tanah jenis ketiga ialah tanah jenis gersang yang tidak menumbuhkan tanaman dan tidak pula menakung air hujan yang turun ibarat padang pasir. Orang yang diumpamakan seperti tanah jenis ini ialah orang yang apabila didatangkan ilmu agama kepadanya, ia tidak memberi sebarang kebaikan kepada dirinya dan kepada orang lain. Dia tidak mengendahkan dan tidak mahu ambil peduli dengan ilmu agama. Orang yang jenis ketiga ini langsung tidak memberi manfaat kepada manusia lain walau sedikit pun.

Begitulah sedikit huraian tentang hadith yang Rasulullah saw umpamakan sikap manusia yang berinteraksi dengan ilmu agama dengan 3 jenis keadaan tanah. Marilah kita cuba menjadi yang terbaik iaitu menjadi manusia yang jenis pertama yang diterangkan seperti di atas tadi. Manusia ini berusaha memahami ilmu agama dengan mempraktikkan ilmu yang dipelajarinya (beramal) dan dia mengajar kepada orang lain pula. Ia belajar agama bukan sekadar untuk mengisi masa lapang, bukan kerana wang ringgit, harta dan pangkat tetapi ingin membentuk jati peribadi muslim yang unggul dan berusaha untuk membentuk peribadi muslim yang lain pula. Secara tidak langsung, islam akan tersebar dengan meluas serta melahirkan individu muslim yang soleh dan musleh. Wallahu’alam.